Makalah Tentang Broken Home


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1     Latar Belakang
Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil didalam masyarakat tetapi menempati kedudukan yang primer dan fundamental. Pengertian keluarga disini berarti nuclear family yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah dan ibu secara ideal tidak terpisah tetapi bahu-membahu dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai orang tua dan mampu memenuhi tugas sebagai pendidik, dan setiap eksponen keluarga melaksanakan fungsinya masing-masing.
Keluarga merupakan tempat pertama anak-anak mendapat pengalaman dini langsung yang akan digunakan sebagai bekal hidupnya dikemudian hari melalui latihan fisik, sosial, mental, emosional dan spritual. Seperti juga yang dikatakan oleh Malinowski (Megawangi, 1999) tentang “principle of legitimacy” sebagai basis keluarga, struktur sosial (masyarakat) harus diinternalisasikan sejak individu dilahirkan agar seorang anak mengetahui dan memahami posisi dan kedudukannya, dengan harapan agar mampu menyesuaikannya dalam masyarakat
kelak setelah ia dewasa. Dengan kata lain, keluarga merupakan agen terpenting yang berfungsi meneruskan budaya melalui proses sosialisasi antara individu dengan lingkungan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan satu fungsi tertentu bukan yang bersifat alami saja melainkan juga adanya berbagai faktor atau kekuatan yang ada di sekitar keluarga, seperti nilai-nilai, norma dan tingkah laku serta faktor-faktor lain yang ada di masyarakat.
Awal mula terbentuknya suatu keluarga didasari oleh kebutuhan dasar setiap individu. Rogers (Calvin dan Gardner, 1993) mengatakan setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat). Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Kebutuhan inilah yang diharapkan individu dapat terpenuhi dalam membangun suatu keluarga. Dengan perkawinan yang harmonis maka kebutuhan kebutuhan tersebut akan terpenuhi. Karena itulah pada dasarnya setiap pasangan menginginkan perkawinan mereka berjalan lancar. Namun menurut Laswell dan Lobsenz (1987), perkawinan disebut sebagai hal yang paling sulit “jika mungkin” dinyatakan sebagai usaha sosial. Mengarah pada seberapa baik kebanyakan orang mempersiapkannya dan seberapa besar harapan mereka terhadap hal tersebut, gambarannya seringkali tidak terbukti benar. Pada kenyataannya memang tidak sedikit pasangan suami istri yang ”gagal” mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Broken Home
Broken home biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua kita tak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah. Orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan kita di masyarakat. Namun, broken home bisa juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian dan akan sangat berdampak kepada anak-anaknya khususnya remaja. Oleh karena itu perlunya pengetahuan tentang broken home. Dan pada makalah ini penulis akan membahas masalah keluarga broken home serta apa saja yang berkaitan dengan masalah keluarga broken home.
1.2       Permasalahan Yang Dihadapi
1.   Apa pengertian Broken Home ?
2.   Apa saja faktor-faktor penyebab Broken Home ?
3.   Apa saja dampak Broken Home terhadap Perkembangan Anak (remaja)
4.   Bagaimana cara mengatasi kelurga yang Broken Home ?
5.   Bagaimana cara meminimalisir dampak negatif terhadap Anak (remaja) broken home

1.3       Tujuan Penulisan
1.   Untuk mengetahui  pengertian Broken Home ?
2.   Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor penyebab Broken Home ?
3.   Untuk mengetahui apa saja dampak broken home terhadap Perkembangan Anak (remaja)
4.   Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi keluarga yang broken home ?
5.   Untuk mengetahui bagaimana cara meminimalisir dampak negatif terhadap Anak (remaja) broken home

1.4       Manfaat Penulisan
Dalam pembuatan makalah kali ini diharapkan untuk semua masyarakat menyadari bahwa bahaya dari sifat broken home itu sendiri agar anggota keluarga kita tidak terkena atau terpengaruh dari sifat itu. Oleh karena itu diharapkan agar semua masyarakat memperhatiakan satu sama lain antara anggota keluarga jika ingin keluarga kita sendiri lepas atau tidak berhubungan sekali denga yang namanya broken home.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1       Pengertian dan Keadaan Keluarga Broken Home
Tak luput dari realitas bahwa semakin hari, faktanya semakin banyak keluarga yang mengalami broken home. Beberapa kasus diantaranya mungkin disebabkan perbedaan prinsip hidup, dan diantara lainnya bisa disebabkan oleh masalah-masalah pengaturan keluarga. Akan tetapi, yang jelas kasus-kasus broken home itu sama halnya dengan kasus-kasus sosial lainnya, yaitu sifatnya multifaktoral. Satu hal yang pasti, hubungan interpersonal diantara suami-istri dalam keluarga broken home telah semakin memburuk. Kedekatan fisikal juga menjadi alasan bagi pasangan suami istri dalam menyikapi masalah broken home, meskipun dalam beberapa sumber disebutkan bahwa kedekatan fisik tidak mempengaruhi kedekatan personal antarindividu. Inti dari semuanya adalah komunikasi yang baik antarpasangan. Dalam komunikasi ini, berbagai faktor psikologis termuat di dalamnya, sehingga patut mendapat perhatian utama.
Memburuknya komunikasi diantara suami istri ini seringkali menjadi pemicu utama dalam keluarga broken home. Hartley (1993) melalui Sarwono menjelaskan peranan penting rasa saling percaya, saling terbuka, dan saling suka diantara kedua pihak agar terjadi komunikasi yang efektif. Dalam keadaan ini, kematangan kepribadian menentukan penerimaan peran dari pasangan komunikasinya (Kabul, 1978). Aspek lain yang penting menurut Hartley adalah adanya hubungan dua arah dalam komunikasi ini, artinya di sini terjadi saling pengertian akan makna tersirat dalam komunikasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarpasangan merupakan sarana penting dalam menuju hubungan antarpasangan yang efektif. Sejalan dengan itu, dorongan berkomunikasi ini merupakan efek disposisi biologis manusia (Wright, 1989). Dalih mengenai asumsi bahwa komunikasi merupakan efek disposisi genetis adalah bahwa tiap individu dilahirkan dengan tipe kepribadian tertentu, baik intovert maupun ekstrovert (Jung, melalui Hall, 1993). Adanya perbedaan tipe kepribadian inilah yang mengarahkan perkembangan komunikasi individu. Meskipun demikian, Carl Gustav Jung juga mengakui adanya pengaruh faktor lingkungan yang membentuk persona individu dalam prosesnya merespons tuntutan-tuntutan lingkungan.
Dalam suasana keluarga yang broken home bukan hanya komunikasi yang memburuk, tetapi juga terdapat aspek yang tidak relevan dalam hubungan itu, sehingga menyebabkan berkurangnya ketertarikan antardiri pasangannya. Lemahnya ketertarikan ini bisa berdampak pada pengabaian sosial termasuk pengabaian afektif (Affective Disregard). Dalam hal ini, dapat diuraikan bahwa dalam keluarga yang broken home antarpasangan terjadi pelemahan rasa saling menilai secara positif, yang terjadi penilaian menjadi cenderung negatif antara satu pasangan dengan pasangannya. Dari semua fenomena di atas, akan bisa berdampak pada perkembangan psikologis anak dalam keluarga itu. Remajalah yang dalam hal ini sangat rentan. Masa remaja, seperti yang dikatakan oleh Erickson bahwa masa remaja merupakan masa pencarian identitas. Masa remaja ditandai dengan pergolakan internal untuk menemukan identitas dirinya berkaitan dengan eksistensi hidupnya. Pengaruh faktor broken home keluarga menjadi faktor negatif dalam penemuan identitas yang sehat, sehingga remaja cenderung mengalami fase kebingungan identitas. Perkembangan afeksi juga bisa mengalami hambatan. Hal ini dikarenakan adanya pengabaian afek oleh orangtuanya. Lebih jauh, terdapat sifat-sifat penghambat perkembangan kepribadian yang sehat yang terwujud dalam kepribadian anak, sehingga mereka mungkin mengalami schizoid atau bisa berdampak hingga schizophrenia.
Broken home sebenarnya merupakan realitas yang cukup berimplikasi negatif bagi perkembangan kepribadian yang sehat, meskipun kita mengakui peranan lingkungan dalam perkembangan individu. Akan tetapi, faktor broken home nampaknya memainkan peranan cukup signifikan dalam beberapa penelitian.
Dalam hubungan keluarga yang sehat, nilai-nilai subjektivitas antarpasangan harus saling mengakuinya. Jikalau tidak, hubungan interpersonal keduanya menjadi memburuk dan menyebabkan keretakan dalam keluarga. Dengan begitu, kedua pasangan telah melebihkan kapasitas egonya saja. Di sisi lain, Freud dalam psikoanalisisnya menyebutkan pentingnya keselarasan antara fungsi id, ego, dan superego agar tercipta suatu hubungan interpersonal yang sehat. Inilah yang seharusnya ada dalam hubungan sebuah keluarga yang harmonis.
Sebenarnya broken home dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Akan tetapi, yang jelas semua berawal dari rasa ketidakcocokan antarpasangan suami istri. Peran psikologi nampak jelas dalam realitas ini. Psikologi mendapat beban berat untuk mencarikan alternatif terhadap masalah ini. Untuk itu, penulis ingin mengungkap realitas yang ada dalam fenomena broken home dengan harapan bisa memberikan bahan analisis guna mengembangkan intervensi yang selayaknya terhadap kasus-kasus broken home yang kian hari kian meningkat.
Ayah, ibu, dan anak adalah keluarga inti yang merupakan organisasi terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. Pada hakikatnya, keluarga merupakan wadah pertama dan utama yang fundamental bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Di dalam keluarga, anak akan mendapatkan pendidikan pertama mengenai berbagai tatanan kehidupan yang ada di masyarakat. Keluargalah yang mengenalkan anak akan aturan agama, etika sopan santun, aturan bermasyarakat, dan aturan-aturan tidak tertulis lainnya yang diharapkan dapat menjadi landasan kepribadian anak dalam menghadapi lingkungan. Keluarga juga yang akan menjadi motivator terbesar yang tiada henti saat anak membutuhkan dukungan dalam menjalani kehidupan.
Namun, melihat kondisi masyarakat saat ini, fungsi keluarga sudah mulai tergeser keberadaannya. Semua anggota keluarga khususnya orangtua menjadi sibuk dengan aktivitas pekerjaannya dengan alasan untuk menafkahi keluarga. Peran ayah sebagai kepala keluarga menjadi tidak jelas keberadaannya, karena seringkali ayah zaman sekarang bekerja di luar kota dan hanya pulang satu minggu sekali ataupun pergi pagi dan pulang larut malam. Ibulah yang menggantikan peran ayah di rumah dalam mendidik serta mengatur seluruh kepentingan anggota keluarganya.
Masalah akan semakin berkembang tatkala ibupun menjadi seorang wanita pekerja dengan berdalih membantu perekonomian keluarga ataupun berambisi menjadi wanita karir, sehingga melupakan anak dan keluarganya. Banyak ditemukan ibu menjadi seorang super woman yang bekerja dua puluh empat jam sehari tanpa henti, barangkali waktu istirahat ibu hanyalah beberapa jam dalam sehari. Itupun jika ibu mampu dengan cerdas mengelola waktu bekerja di luar rumah dan bekerja di rumah tangganya. Ketika ayah dan ibu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, lalu ke manakah anak-anak mereka? Anak yang seharusnya memiliki hak mendapatkan kehangatan dalam keluarganya.
Kecenderungan yang terjadi, keluarga menjadi pecah dan tidak jelas keberadaannya. Ketika ayah dan ibu sudah tidak dapat berkomunikasi dengan baik, karena kesibukan masing-masing atau karena egonya, maka mereka memilih untuk bercerai. Namun, di saat orangtua dapat mempertahankan keluarganya secara utuh tanpa ada komunikasi yang hangat antara anggota keluarganya, secara psikologis merekapun bercerai.
Oleh karena orangtua tidak punya waktu banyak untuk berdialog, berdiskusi atau bahkan hanya untuk saling bertegur sapa. Saat orangtua pulang bekerja, anak sudah tertidur dengan lelapnya dan saat anak terbangun tidak jarang orangtua sudah pergi bekerja atau anaknya yang harus pergi ke sekolah. Ketika anak protes dan mengeluh, orangtua hanya cukup memberikan pengertian bahwa ayah dan ibu bekerja untuk kepentingan anak dan keluarga juga. Orangtua zaman sekarang sering merasa kesulitan mengerti keinginan anaknya, tanpa mereka sadari bahwa orangtualah yang selalu membuat anak harus mengerti keadaan orangtuanya.
Anak yang broken home bukanlah hanya anak yang berasal dari ayah dan ibunya bercerai, namun anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh, dimana ayah dan ibunya tidak dapat berperan dan berfungsi sebagai orangtua yang sebenarnya. Tidak dapat dimungkiri kebutuhan ekonomi yang semakin sulit membuat setiap orang bekerja semakin keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, orangtua seringkali tidak menyadari kebutuhan psikologis anak yang sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan hidup. Anak membutuhkan kasih sayang berupa perhatian, sentuhan, teguran dan arahan dari ayah dan ibunya, bukan hanya dari pengasuhnya atau pun dari nenek kakeknya.
Perhatian yang diperlukan anak dari orangtuanya adalah disayangi dengan sepenuh hati dalam bentuk komunikasi verbal secara langsung dengan anak, meski hanya untuk menanyakan aktivitas sehari-harinya. Menanyakan sekolahnya, temannya, gurunya, mainannya, kesenangannya, hobinya, cita-cita dan keinginannya. Ada anak di sekolah yang merasa aneh, jika temannya mendapatkan perhatian seperti itu dari orangtuanya, karena zaman sekarang hal tersebut menjadi sangat mahal harganya dan tidak semua anak mendapatkannya.
Anak sangat membutuhkan sentuhan dari orangtuanya, dalam bentuk sentuhan hati yang berupa empati dan simpati untuk membuat anak menjadi peka terhadap lingkungannya. Selain itu, belaian, pelukan, ciuman, kecupan, dan senyuman diperlukan untuk membuat kehangatan jiwa dalam diri anak dan membantu anak dalam menguasai emosinya.
Arahan dibutuhkan oleh anak untuk memberikan pemahaman bahwa dalam kehidupan bermasyarakat ada aturan tidak tertulis yang harus ditaati dan disebut sebagai norma masyarakat. Norma agama, norma sosial, norma adat atau budaya dan norma hukum sebaiknya diberikan kepada anak sejak masih usia kecil. Dengan diberikannya pemahaman dalam usia sedini mungkin, diharapkan anak dapat menjadi warga masyarakat yang baik, khususnya saat anak mulai mengenal lingkungan selain keluarganya.
Jika anak melanggar norma tersebut, sudah merupakan kewajiban orangtua sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya untuk memberikan teguran yang disertai penjelasan logis sesuai dengan perkembangan usianya supaya anak mengerti dan memahami bagaimana bersikap dan berperilaku yang sesuai dengan norma-norma masyarakat.
Dampak dari keegoisan dan kesibukan orangtua serta kurangnya waktu untuk anak dalam memberikan kebutuhannya menjadikan anak memiliki karakter mudah emosi (sensitif), kurang konsentrasi belajar, tidak peduli terhadap lingkungan dan sesamanya, tidak tahu sopan santun, tidak tahu etika bermasyarakat, mudah marah dan cepat tersinggung, senang mencari perhatian orang, ingin menang sendiri, susah diatur, suka melawan orang tua, tidak memiliki tujuan hidup, dan kurang memiliki daya juang.
Solusi terbaik untuk anak-anak tersebut bukanlah psikolog, guru dan ulama, melainkan orangtua yaitu ayah dan ibunya di rumah yang dapat berperan dan berfungsi selayaknya orang tua. Anak-anak tidak akan berbicara secara verbal mengenai kebutuhan dan keinginan hati kecilnya, tetapi mereka akan berbicara dalam bentuk perilaku yang diperlihatkannya dalam keseharian. Alangkah bahagia dan senangnya anak-anak, jika orangtua dapat mengerti dan memahami fungsi dan peran orang tua sebagaimana mestinya. Andai saja orangtua dapat mengurangi keegoisannya dan menyisihkan waktu memenuhi kebutuhan psikologis anak-anaknya, maka anak akan menjadi generasi yang berintelektual tinggi dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan harapan dan cita-cita orangtuanya.
2.2       Ciri-Ciri Psikologis Keluarga Broken Home
Berdasarkan beberapa asumsi dalam literatur, penulis menemukan bahwa keluarga broken home bukan hanya keluarga dengan kasus perceraian saja. Keluarga broken home secara keseluruhan berarti keluarga dimana fungsi ayah dan ibu sebagai orangtua tidak berjalan baik secara fungsional. Fungsi orangtua pada dasarnya adalah sebagai agen sosialisasi nilai-nilai baik-buruk, sebagai motivator primer bagi anak, sebagai tempat anak untuk mendapatkan kasih sayang, dan sebagainya. Jikalau fungsi orangtua ini terhambat, maka aspek-aspek khusus dalam keluarga bisa dimungkinkan tak terjadi.
Pada hakikatnya, anak membutuhkan orangtuanya untuk mengembangkan kepribadian yang sehat. Pada masa remaja, berdasarkan asumsi Erickson, remaja memerlukan figur tertentu yang nantinya bisa menjadi figure sample dalam internalisasi nilai-nilai remajanya. Dengan tidak berfungsinya peran orangtua sebagaimana mestinya, maka hal in bisa terhambat. Proses pencarian identitas dalam kondisi serupa ini bisa jadi meriam bagi remaja itu. Remaja itu dimungkinkan membentuk kerpibadian yang kurang sehat dengan perasaan terisolasi. Proses pencarian identitas akan terhambat dan menimbulkan rasa kebingungan identitas (confused of Identity). Penambahan juga, remaja itu mungkin bisa mengembangkan perilaku yang delinquency, atau bahkan patologis, jika keadaan keluarga yang broken home itu dirasakannya sangat menekan dirinya.  Seperti penelitian yang dilakukan oleh Yeri Abdillah (2003) dalam penelitiannya, menyimpulkan bahwa agresivitas pada remaja dalam keluarga broken home mempunyai taraf lebih tinggi daripada rekannya yang tidak mengalami kasus broken home.
Masih banyak kasus lagi yang mungkin dirasakan anak dalam keluarga broken home. Efeknya akan lebih terasa jika anak berada dalam masa remaja. Masa remaja dalam psikologi diasumsikan sebagai masa yang penuh dengan strom and stress. Jikalau dianalisis lebih lanjut keadaan broken home bisa memperburuk keadaan remaja itu. Keadaan itu akan diartikan sebagai tekanan yang bisa menjadi sumber awal penyebab patologis sosial.
Cinta adalah suatu perasaan yang tulus terhadap orang yang dicintai.
mampu memahami mengerti, menyayangi orang yang dicintainya.
berjiwa besar, dan mau membahagiakan orang yang dicintainya (
http://mtdw.blogspot.com/2006/04/apa-makna-cinta-cinta-adalah-suatu.html, Disadur tanggal 7 mei 2008). Cinta merupakan suatu perasaan yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membahagiakan umatnya. Cinta merupakan sesuatu yang sakral, suatu perasaan yang selalu digunakan dalam kehidupan. Kehidupan tanpa cinta seperti ”sayur tanpa garam”. Walaupun cinta itu mungkin jarang diungkapkan, tetapi cinta itu sebagian besar ditunjukkan dengan perasaan-perasaan, perhatian-perhatian atau mungkin tindakan-tindakan yang positif terhadap orang-orang yang dicintai.
Cinta orangtua tehadap anaknya, dengan bimbingan melalui perasaan dan tindakan sebagai ungkapan cinta mereka kita sebagainya anaknya akan berkembang lebih baik. Sebagai manusia sangat wajar jika kita memiliki perasaan cinta itu. Kita menyayangi sesorang dan mencintainya itu merupakan suatu komitmen untuk bersamanya dalam mengarungi kehidupan ini, atau paling tidak kita dapat saling membahagiakan. Cinta juga dapat tumbuh seiring dengan waktu, jika ada perasaan yang tulus maka awalnya kita menganggap suatu hubungan biasa saja namun seiring dengan perjalan waktu kita menemukan kecocokan dengan hubungan tersebut, maka akan tumbuh rasa yang dinamakan cinta.
Cinta akan datang sekali dalam hidup pada satu pintu hati kita, maka gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Dalam perjalanannya cinta itu akan mengalami banyak sekali rintangan. Seperti halnya perjalanan hidup, akan banyak mengalami cobaan halangan dan rintangan untuk mencapai kebahagian cinta. Kita bisa belajar dari rintangan-rintangan itu, sehingga dapat memahami cinta dan tahu apa yang harus dilakukan demi cinta.
Cinta orangtua merupakan konsep dasar yang bisa diasumsikan sebagai segala yang diberikan oleh ayah dan ibu dalam perannya sebagai orangtua terhadap anaknya. Anak secara umum akan mengidentifikasikan dirinya pada orangtua. Beberapa penelitian mengidentifikasikan bahwa kelekatan anak hingga remaja pada umumnya terletak pada orangtuanya. Apabila orangtuanya tidak memberikan kasih sayang yang cukup kepada anaknya, maka kelekatan itu tidak aka ada. Untuk mendapatkan sumber kelekatan selain orangtua adalah hal yang rumit. Untuk itu, di sini peran orangtua secara fungsional merupakan aspek penting dalam perkembangan anak.
Munculnya masalah broken home menimbulkan suatu perasaan menyesal pada remaja, dan melakukan identifikasi ulang. Ketiadaannya dukungan sosial menyebabkan kurangnya alternatif masukan bagi remaja itu untuk melakukan reidentifikasinya. Orangtua yang semulanya menjadi teladan, akan dianggap sebagai pembawa petaka baginya. Dari asumsi ini muncullah rasa ketidakpercayaan pada diri remaja itu. Munculnya rasa ketidakpercayaan ini menyebabkan cinta kepada orangtuanya semakin menipis atau berkurang. Kelekatan dengan orangtua semakin kecil, sehingga asumsi-asumsi negatif kepada orangtua mulai muncul. Dari asumsi itu muncullah asumsi bahwa orangtuanya sudah tidak menyayanginya lagi. Perkuatan muncul apabila tidak adanya perhatian secara fisikal yang ditujukan pada remaja itu.
Pemaknaan cinta orangtua akan semakin mengarah pada negativitas seiring dengan munculnya beberapa hal berikut ini:
1.      Ketiadaan perhatian fisikal yang dirasakan oleh remaja dalam keluarga broken home,
2.       Konfliks antara orangtuanya dirasakan semakin mengarah pada egoisme ayah-ibunya tanpa mempertimbangkan eksistensi remaja itu,
3.       Kurangnya pemahaman spiritualisme dalam menghadapi kenyataan hidup berkaitan dengan situasi broken home,
4.       Kurangnya sosialisasi dari lingkungan sosialnya untuk memandang hal itu dari sisi positif, dan
5.       Taraf perkembangan sosioemosional yang belum dewasa.
Freud dalam psikonalisis paradoksnya mengasumsikan bahwa konfliks sebagian besar hanya muncul dalam taraf ketidaksadaran individu. Meskipun sacara fisikal terlihat senyum, bukan berarti mood orang itu juga posiitif. Konfliks internal yang mungkin lebih parah akan muncul dan bermula dari ketidaksadarannya. Sifat inilah yang menentukan kesadaran manusia berkaitan dengan ego, ego ideal, superego, dan id-nya. Sistem ini akan berdinamika sesuai pengalaman. Faktor broken home dapat secara kuat menyebabkan perasaan subjektif akan cinta orangtua semakin berkurang atau mengarah pada hal negatif. Bukan tidak mungkin remaja dalam keluarga broken home akan menyalahkan atau memandang secara negatif terhadap salah satu orangtua atau bahkan kedua orangtuanya, jika orangtuanya itu dianggap penyebab penderitaan yang dirasakannya. Ini merupakan suatu bentuk kompensasi tak langsung atas asumsi subjektif diri remaja itu atas penderitaan yang seharusnya tidak ia dapatkan. Dalam teori klasik Sigmund Freud, hal ini menyebabkan pemasakan intrapsikis yang salah, dan dapat mengarah pada suatu bentuk patologis apabila tidak mendapatkan pemecahan masalah yang efektif.
Remaja dalam tahapan psikososial Erik H. Erickson disebutkan adalah masa pencarian identitas. Dalam tahapan ini, peran orangtua dalam membentuk identitas nampak jelas, apalagi bagi remaja putri (Margareth Rosario, 2007). Remaja putri dalam masa pencarian identitas dirinya sangat bergantung pada orangtuanya sebagai figur teladan, berbeda pada remaja putra yang lebih ditentukan oleh peer-group-nya. Fakta penelitian ini sudah seharusnya mempertimbangkan individual differences, yang menyadari bahwa itu semua bergantung dan khas pada tiap individu.


2.3       Peran Dukungan Sosial Terhadap Perkembangan Kepribadian Anak Pada Keluarga Broken Home
Dalam psikologi individual yang dikemukakan oleh Alfred Adler (melalui Hall, 1993) disebutkan bahwa lingkungan sosial memainkan peran penting dalam perkembangan individu dalam rentang yang ada. Manusia pertama-tama dimotivasi oleh dorongan-dorongan sosialnya. Menurut Adler, pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial. Mereka menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kegiatan sosial, dan sebagainya. Dorongan sosial Adler merupakan dorongan yang bersifat herediter atau bawaan genetis, yang kemudian mendapat stimulus-stimulus untuk perubahan perkembangannya dari lingkungan sosialnya. Adler mengatakan bahwa manusia adalah diri yang kreatif. Psikologi Individual Adler merupakan kombinasi sistem subjektif yang sangat dipersonalisasikan, yang menginterpretasikan pengalaman-pengalaman penuh arti. Sejalan dengan pandangan Soren Kierkegaard bahwa manusia adalah subjektif, sehingga kebenaran subjektif merupakan hal utama yang pertama.
Adler juga menambahkan bahwa diri mencari pengalaman-pengalaman yang membantu pemenuhan gaya hidup sang pribadi yang unik, apabila tak ditemukan, maka diri akan berusaha menciptakannya. Ini menjelaskan bahwa dukungan sosial sangat penting bagi remaja dalam keluarga broken home. Dengan adanya dukungan sosial dari lingkungan sosialnya, maka pengalaman dalam hal problem solving masalah keluarga yang dihadapinya akan didapatkannya. Masih dalam hal dukungan sosial, intensi perilaku juga dipengaruhi oleh arah vektor kontinumnya. Arahnya ditentukan oleh masukan dari agen dukungan sosialnya. Agen yang tepat berarti agen tersebut dapat memberi masukan saran yang tepat bagi diri itu dan dapat mengarahkannya untuk menghambat lajunya masalah yang dihadapi agar tidak semakin memburuk.
Manusia sebagai diri, menurut Adler merupakan pribadi yang unik yang terdiri atas konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat, dan nilai-nilai, dimana setiap perbuatan yang dilakukan mencerminkan gaya hidup yang khas baginya. Manusia menjalani hidupnya dengan motivasi dorongan sosial. Hilangnya dorongan sosial dapat berakibat munculkan gangguan perkembangan atau gangguan psikis lainnya.
Adler juga menjelaskan bahwa manusia lebih didorong oleh harapan-harapan di masa depan daripada kenangan masa lalunya. Harapan yang pupus akibat broken home ini, membuat diri remaja itu berupaya untuk melakukan dinamika diri ke arah kemajuan. Lagi-lagi di sini nampak peran dukungan sosial dalam dinamika diri. Harapan yang pupus menyebabkan perilaku sekarang menjadi terhambat dengan adanya broken home. Hilangnya harapan ini akan mempengaruhi perilaku dalam parameter sejauhmana harapan itu menjadi prioritas hidupnya. Apabila itu sangat penting bagi dirinya, maka simtom negatif tertentu akan mungkin muncul, misalnya menjadi suka menyendiri, mudah tersinggung, dan sebagainya. Akan tetapi, Adler menyebutkan bahwa orang norma pasti dapat membebaskan diri dari harapan fiktif ini, sehingga diri terbebas dalam menghadapi kenyataan dari fiktif-fiktif ini. Apabila diri tidak demikian, maka gangguan psikis atau gangguan perkembangan akan muncul.
Adler menambahkan setiap diri memiliki kecenderungan untuk mengarah pada superioritas dengan tiga cirinya yaitu menjadi agresif, bekuasa, dan superior. Superior di sini bukanlah bersifat individualisme, melainkan sejalan dengan konsep aktualisasi diri Abraham Maslow. Superioritas merupakan gejala adanya aktualisasi diri. Ini terjadi pada orang normal. Ketidakberdayaan fisik dan kelemahan yang tak nampak lainnya menjadi faktor pendukung munculnya perasaaan inferioritas. Pada remaja dalam keluarga broken home, broken home ini akan menjadi bahan bagi munculnya rasa inferior pada dirinya, tergantung sejauhmana masalahnya dirasakan membuat dirinya tak berdaya. Adakah kompensasinya? Adler menjawab bahwa dari adanya inferioritas itu muncullah kompensasi atas rasa inferior itu. Metode kompensasi ini diperoleh selama proses belajar sosialnya terhadap lingkungan, sedangkan pertimbangan untuk menggunakannya ditentukan secara subjektif oleh diri remaja itu. Kompensasi yang mungkin muncul adalah semakin melekatnya remaja itu dengan peer-group-nya, atau menjadi seorang penyendiri, dan peka perasaannya. Adler menyebutkan bahwa rasa inferior ini muncul bukan sebagai abnormal, melainkan sebagai bentuk penyempurnaan dalam perkembangan dirinya. Manifestasi atas perkembangan yang tak dapat dilakukan remaja mengakibatkan adanya gejala abnormalitas, misalnya gangguan penyesuaian.
Adler kemudian menekankan peranan dukungan sosial dalam perkembangan diri remaja yang mengalami broken home. Lingkungan sosial yang mendukung positif menjadi sumber inspirasi penting bagi individu, sehingga diri mampu mengembangkan dirinya ke arah kesempurnaan, yang menjadi tujuan perkembangan diri menurut Adler. Ketiadaan dukungan sosial yang memadai bagi diri menyebabkan semakin besarnya intensitas inferioritas yang dirasakannya, dan ini dapat mengarahkan pada gejala keabnormalitasan diri. Akan tetapi, Adler percaya bahwa tiap diri adalah kreatif untuk mencari alternatif penyelesaian bagi setiap masalah yang dihadapinya, sehingga apabila abnormalitas itu muncul, maka dapat disimpulkan bahwa stimulus broken home yang dirasakannya melebihi taraf intensitas kemampuannya dalam mereduksi masalah.




BAB III
PEMBAHASAN

3.1.      Pengertian Broken Home
                  Arti broken home dalam bahasa Indonesia adalah perpecahan dalam keluarga. Broken home dapat juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian.
 Istilah “Broken Home” biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun dan sejahtera akibat sering terjadi konflik yang menyebabkan pada pertengkaran yang bahkan dapat berujung pada perceraian. Hal iniakan berdampak besar terhadap suasana rumah yang tidak lagi kondusif, orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya sehingga berdampak pada perkembangan anak khususnya anak remaja. Orang tua adalah panutan dan teladan bagi perkembangan remaja terutama pada perkembangan psikis dan emosi, orang tua adalah pembentukan karakter yang terdekat. Jika remaja diharapkan pada kondisi “broken home” dimana orang tua mereka tidak lagi menjadi panutan bagi dirinya maka akan berdampak besar pada perkembangan dirinya. Dampak psikis yang dialami oleh remaja yang mengalami broken home, remaja menjadi lebih pendiam, pemalu, bahkan despresi berkepanjangan. Faktor lingkungan tempat remaja bergaul adalah sarana lain jika orang tua sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Jika remaja berada di lingkungan pergaulan yang negatif, karena keadaannya labil maka tidak menutup kemungkinan remaja akan tercebur dalam lembah pergaulan yang tidak baik.           
Broken Home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur. Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat untuk berprestasi. Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas mereka selalu berbuat keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan karena mereka Cuma ingin cari simpati pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka. Untuk menyikapi hal semacam ini kita perlu memberikan perhatian dan pengerahan yang lebih agar mereka sadar dan mau berprestasi.

3.2       Penyebab Broken Home
            Pada umumnya penyebab utama broken home ini adalah kesibukkan kedua orang tua dalam mencari nafkah keluarga seperti hal ayah laki – laki bekerja dan ibu menjadi wanita karier. Hal inilah yang menjadi dasar seorang tidak memiliki keseimbangan dalam menjalankan aktifitas sehari hari dan malah sebaliknya akan merugikan anak itu sendiri, dikala pulang sekolah dirumah tidak ada orang yang bisa diajak berbagi dan berdiskusi, membuat anak mencari pelampiasan diluar rumah seperti bergaul dengan teman – teman nya yang secara tidak langsung memberikan efek / pengaruh bagi perkembangan mental anak.  Maka dari itu mereka berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Tetapi sayang, sebagian dari mereka melakukan cara yang salah misalnya : mencari perhatian guru dengan bertindak brutal di dalam kelas, bertindak aneh agar mendapat perhatian orang lain, dll.
Penyebab timbulnya keluarga yang broken home antara lain:
a. Orang tua yang bercerai
Perceraian menunjukkan suatu kenyataan dari kehidupan suami istri yang tidak lagi dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar-dasar perkawinan yang telah terbina bersama telah goyah dan tidak mampu menompang keutuhan kehidupan keluarga yang harmonis. Dengan demikian hubungan suami istri antara suami istri tersebut makin lama makin renggang, masing-masing atau salah satu membuat jarak sedemikian rupa sehingga komunikasi terputus sama sekali. Hubungan itu menunjukan situas keterasingan dan keterpisahan yang makin melebar dan menjauh ke dalam dunianya sendiri. jadi ada pergeseran arti dan fungsi sehingga masing-masing merasa serba asing tanpa ada rasa kebertautan yang intim lagi.
b. Kebudayaan bisu dalam keluarga
Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga. Problem yang muncul dalam kebudayaan bisu tersebut justru terjadi dalam komunitas yang saling mengenal dan diikat oleh tali batin. Problem tersebut tidak akan bertambah berat jika kebudayaan bisu terjadi diantara orang yang tidak saling mengenal dan dalam situasi yang perjumpaan yang sifatnya sementara saja. Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak. Bila orang tua tidak memberikan kesempatan dialog dan komunikasi dalam arti yang sungguh yaitu bukan basa basi atau sekedar bicara pada hal-hal yang perlu atau penting saja; anak-anak tidak mungkin mau mempercayakan masalah-masalahnya dan membuka diri. Mereka lebih baik berdiam diri saja.
Situasi kebudayaan bisu ini akan mampu mematikan kehidupan itu sendiri dan pada sisi yang sama dialog mempunyai peranan yang sangat penting. Kenakalan remaja dapat berakar pada kurangnya dialog dalam masa kanak-kanak dan masa berikutnya, karena orangtua terlalu menyibukkan diri sedangkan kebutuhan yang lebih mendasar yaitu cinta kasih diabaikan. Akibatnya anak menjadi terlantar dalam kesendirian dan kebisuannya. Ternyata perhatian orangtua dengan memberikan kesenangan materiil belum mampu menyentuh kemanusiaan anak. Dialog tidak dapat digantikan kedudukannya dengan benda mahal dan bagus. Menggantikannya berarti melemparkan anak ke dalam sekumpulan benda mati.
c. Perang dingin dalam keluarga
Dapat dikatakan perang dingin adalah lebih berat dari pada kebudayaan bisu. Sebab dalam perang dingin selain kurang terciptanya dialog juga disisipi oleh rasa perselisihan dan kebencian dari masing-masing pihak. Awal perang dingin dapat disebabkan karena suami mau memenangkan pendapat dan pendiriannya sendiri, sedangkan istri hanya mempertahankan keinginan dan kehendaknya sendiri.
d. Adanya Masalah Ekonomi
Adanya Masalah Ekonomi Dalam suatu keluarga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Istri banyak menuntut hal-hal diluar makan dan minum. Padahal dengan penghasilan suami sebagai buruh lepas, hanya dapat memberikan makan dan rumah petak tempat berlindung yang sewanya terjangkau. Karena suami tidak sanggup memenuhi tuntutan istri dan anak-anaknya akan kebutuhan-kebutuhan yang disebutkan tadi, maka timbullah pertengkaran suami-istri yang sering menjurus kearah perceraian.
e. Adanya Masalah Pendidikan
Adanya Masalah Pendidikan Masalah pendidikan sering menjadi penyebab terjadinya brokenhome. Jika pendidikan agak lumayan pada suami istri maka wawasan tentang kehidupan keluarga dapat dipahami oleh mereka. Sebaliknya pada suami istri yang pendidikannya rendah sering tidak dapat memahami lika-liku keluarga. Karena itu sering salah menyalahkan bila terjadi persoalan dikeluarga. Akibatnya selalu terjadi pertengkaran yang mungkin akan menimbulkan perceraian. Jika pendidikan agama ada atau lumayan mungkin sekali kelemahan dibanding pendidikan akan diatasi. Artinya suami istri akan dapat mengekang nafsu masing-masing sehingga pertengkaran dapat dihindari.

3.3       Dampak Broken Home Pada Perkembangan Remaja
Perkembangan Emosi Emosi Merupakan situasi psikologi yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Perceraian adalah suatu hal yang harus dihindari, agar emosi anak tidak menjadi terganggu. Perceraian adalah suatu penderitaan atau pengalaman tramatis bagi anak. Adapun dampak pandangan keluarga broken home terhadap perkembangan emosi remaja. Perceraian orang tua membuat tempramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif) yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain. Mencari jati diri dalam suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi. Peristiwa perceraianØ itu menimbulkan ketidakstabilan emosi. KetidakberartianØ pada diri remaja akan mudah timbul, sehingga dalam menjalani kehidupan remaja merasa bahwa dirinya adalah pihak yang tidak diharapkan dalam kehidupan ini. Ø Remaja yang kebutuhannya kurang dipenuhi oleh orang tua, emosi marahnya akan mudah terpancing.
Perkembangan Sosial Remaja Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat. Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial remaja adalah: Ø Perceraian orang tua menyebabkan ketidakpercayaan diri terhadap kemampuan dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk keluar dan bergaul dengan teman- teman. Anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan.Ø Anak yang dibesarkan dikeluarga pincang, cenderung sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan, kesulitan itu datang secara alamiah dari diri anak tersebut. Dampak bagiØ remaja putri yang tidak mempunyai ayah berperilaku dengan salah satu cara yang ekstrim terhadap laki-laki, mereka sangat menarik diri pasif dan minder kemungkinan yang kedua terlalu aktif, agresif dan genit.

3.4       Cara Mengatasi Kelurga Yang Broken Home
ada beberapa cara ampuh untuk mengatasi situasi seperti itu.
Hadapi semuanya dengan sikap positif. Tidaklah semua yang terjadi itu merupakan hal buruk meskipun itu sesuatu yang berdampak negatif ke kita. Kita harus mencoba menerima keadaan dan berusaha tegar. Hal ini akan membantu kita mengatasi masalah tersebut.
1.         Berpikir positif
Peristiwa yang kita alami kita lihat dari sisi positifnya. Karena di balik semua masalah pasti ada hikmah yang dapat kita petik. Jadikan itu semua sebagai proses pembelajaran bagi kita sebagai remaja menuju tahap kedewasaan. Jauhkan segala pikiran buruk yang bisa menjerumuskan kita ke jurang kehancuran, seperti memakai narkoba, minum-minuman keras, malah sampai mencoba untuk bunuh diri.
2.         Jangan terjebak dengan situasi dan kondisi
Yang jelas, kita enggak boleh terjebak dengan situasi dan menghakimi orangtua atau diri sendiri atas apa yang terjadi serta marah dengan keadaan ini. Alangkah baiknya apabila kita bisa memulai untuk menerima itu semua dan mencoba menjadi lebih baik. Keterpurukan bukanlah jalan keluar. Sebaiknya sih kita bisa tegar dan mencoba bangkit untuk menghadapi cobaan ini. Tetap berusaha itu kuncinya.
3.         Mencoba hal-hal baru
Tidak ada salahnya kita mencoba sesuatu yang baru, asal bersifat positif dan dapat membentuk karakter positif di dalam diri kita. Contohnya, mencoba hobi baru, seperti olahraga ekstrem (hiking, rafting, skating atau olahraga alam) yang dapat membuat kita bisa lebih fresh (segar) dan melupakan hal-hal yang buruk.
4.         Cari tempat untuk berbagi
Kita enggak sendirian lho, karena manusia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain. Mencari tempat yang tepat untuk berbagi adalah solusi yang cukup baik buat kita, contohnya teman, sahabat, pacar, atau mungkin juga saudara. Ya… usahakan tempat kita berbagi itu adalah orang yang dapat dipercaya dan kita bisa enjoy berkeluh kesah dengan dia.
Beberapa hal di atas dapat dijadikan acuan buat kita karena sebenarnya semua permasalahan itu ada solusinya.
5.         Enggak perlu panik
Kita enggak bisa mengelak apabila itu terjadi pada keluarga kita walaupun kita tidak menginginkannya. Enggak perlu panik ataupun sampai depresi menghadapinya. Walaupun berat, kita juga musti bisa menerimanya dengan bijak. Karena siapa sih yang mau hidup di tengah keluarga yang broken home? Pasti semua anak enggak akan mau mengalaminya.

3.5       Solusi Meminimalisir Dampak Negatif Terhadap Remaja Broken Home
            Tentunya sangat banyak faktor penyebab remaja terjerumus ke dalam hal - hal negatif dalam masa peralihannya. Namun, salah satu penyebab utama mengapa remaja seperti itu adalah kurangnya perhatian dan kasih saying orang tua. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh terlalu sibuknya kedua orang tua mereka dengan pekerjaan, sehingga perhatian dan kasih sayang kepada anaknya hanya diekspresikan dalam bentuk materi saja. Padahal materi tidak dapat mengganti dahaga mereka akan kasih sayang dan perhatian orang tua. Pada dasarnya setiap orang menginginkan pengakuan, perhatian, pujian, dan kasih sayang dari lingkungannya, khususnya dari orang tua atau keluarganya, karena secara alamiah orang tua dan keluarga memiliki ikatan emosi yang sangat kuat. Pada saat pengakuan, perhatian, dan kasih sayang tersebut tidak mereka dapatkan di rumah, maka mereka akan mencarinya di tempat lain. Salah satu tempat yang paling mudah mereka temukan untuk mendapatkan pengakuan tersebut adalah di lingkungan teman sebayanya. Sayangnya, kegiatan-kegiatan negatif kerap menjadi pilihan anak-anak broken home tersebut sebagai cara untuk mendapatkan pengakuan eksistensy. Benarkah seluruh fenomena itu sekadar persoalan psikologis, ataukah justru lebih bercorak sosiologis? Apabila problem tersebut dilihat dari perspektif psikologistis, maka penilaian yang muncul adalah kaum remaja tersebut sedang melampiaskan hasrat tersembunyinya. Dalam bahasa psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939), kaum remaja itu lebih mengikuti kekuatan id (dorongan-dorongan agresif) ketimbang superego (hati nurani). Keberadaan ego (keakuan) mereka gagal untuk memediasi agresivitas menjadi aktivitas sosial yang dapat diterima dengan baik dalam kehidupan sosial (sublimasi). Namun, pendekatan psikologis itu sekadar mampu mengungkap persoalan dalam lingkup individual. Itu berarti nilai-nilai etis yang berdimensi social cenderung untuk dihilangkan. Agar para remaja yang sedang mencari jati diri tidak semakin terjerumus, tentunya diperlukan peranan orang tua. Selain itu, dibutuhkan pengawasan ketat dari pihak sekolah dan itu menjadi kunci keberhasilan pencegahan kenakalan remaja baik sebagai akibat broken home maupun akibat hal lainnya. Peran orang tua di rumah dan peran sekolah menjadi kunci keberhasilan pencegahan moral remaja akibat pengaruh pergaulan bebas. Kasih sayang dan perhatian orang tua adalah langkah pertama. Dalam kondisi dan situasi apapun, orang tua harus selalu mendampingi anak-anaknya. Pasalnya, sudah banyak korban dari pergaulan bebas adalah anak yang broken home, mereka mencari pelarian auntuk menghindar dari kenyataan yang dihadapi.


BAB IV
PENUTUP
4.1.      Kesimpulan
            Broken home bukanlah akhir dari segalanya bagi kehidupan kita. Jalan kita masih panjang untuk menjalani hidup kita sendiri. Pergunakanlah situasi ini sebagai sarana dan media pembelajaran guna menuju kedewasaan. Ingat, kita tidak sendiri dan bukanlah orang yang gagal. Kita masih bisa berbuat banyak serta melakukan hal positif. Menjadi manusia yang lebih baik belum tentu kita dapatkan apabila ini semua tidak terjadi. Mungkin saja ini merupakan sebuah jalan baru menuju pematangan sikap dan pola berpikir kita.

4.2.      Saran
1.      Jangan menatap masa lalu, berorientasilah ke masa depan. Masalah perceraian bukan milik Anda, melainkan milik orang tuan Anda.
2.      Tetap berhubungan baik dengan kedua orang tua, meskipun mereka telah berpisah. Harus tetap menghomati keduanya dengan segala kondisi yang ada, sekalipun mereka telah gagal dam menjalankan sebuah rumah tangga
3.      Harus pandai dan selektif memilih teman atau lingkungan pergaulan. Jangan terjebak pada hal-hal yang memperburuk kondisi Anda sebagai seorang anak broken home.






1 komentar:

Posting Komentar